Selasa, 04 Februari 2014

Resensi: Tuesdays With Morrie

Sudah lama buku ini tersimpan di rak, tidak saya sentuh. Saya tahu buku ini menarik. Pada jilidnya tertulis bestseller internasional, label yang pasti tidak sembarangan, namun bisa dipertanggung jawabakan, bahwa buku ini. pasti isinya menarik, hal yang menjadi alasan saya membelinya.

Pasti ini bukan novel sembarangan.
Ini pasti novel bagus.
Pasti kalimat-kalimatnya bermakna, menyentuh, atau kalau tidak, keseluruhan ceritanya mengandung pelajaran berharga, yang universal, menyentuh semua lapisan manusia.

Sayangnya saya sibuk sekali, dan buku itu menganggur, terbiakan lama. Kasihan juga.
Suatu ketika, saat santai, saya membukanya. Bukan untuk membacanya tamat, hanya sekilas saja. Mencoba menikmati setiap kalimatnya. Langsung saya dapatkan sesuatu yang beda, yang unik, yang istimewa, sesuatu yang indah. Kisah ini, bukan kisah kacangan yang melulu berbicara percintaan, jadian, jalan-jalan, putus nyambung putus. Ini buku mengangkat tema berkelas dan universal, tentang bagaimana menghargai hidup. 

Ini kisah nyata tentang seorang profesor pada saat-saat terakhir hidupnya. Saat dimana seseorang seharusnya sudah putus asa, dia tetap bertahan memberikan pelajaran kepada mahasiswanya. Kuliahnya seminggu sekali, di rumahnya. Dimulai seusai sarapan. Judulnya makna hidup. Bahan-bahannya digali dari pengalaman. 

Tidak ada nilai, yang ada hanya ujian lisan. Mahasiswa diharapkan bisa menjawab pertanyaannya, begitu juga mereka diminta bisa mengajukan pertanyaan. Sesekali mahasiswa juga mendapatkan tugas fisik mengangkat kepalanya, untuk mengganti bantalnya dengan yang lebih nyaman.

Mitch Albom, menuturkan kisah ini dengan bahasa ringan, anggun, tenang, perlahan. Dengan sangat menyentuh, dia menulis dalam pembukaannya:

"Buku tak diperlukan, namun banyak topik yang diperbincangkan. Antara lain cinta, kerja, kemasyarakatan, keluarga, semangat memafkan, dan akhirnya, kematian. Ceramah terakhirnya singkat, cuma beberapa patah mata. Upacara wisuda diganti dengan upacara pemakaman. Walau pun tiada ujian akhir, diwajibkan menyusun makalah panjang tentang semua yang telah dipelajari. Inilah makalah tersebut. Kuliah terakhir mahaguru ini hanya dihadiri satu orang mahasiswa. Mahasiswa itu adalah aku."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar