Kamis, 13 Februari 2014

Wiro Sableng: Pembalasan Ratu Laut Utara

Kukira hanya ada Ratu Pantai Selatan saja, rupanya ada pula Ratu Laut Utara, dan dalam kisah ini, dia melakukan pembalasan. Kejam sekali dia ya, memangnya ada salah apa, sampai membalas segala. Siapa yang telah bersalah kepadanya?

Sepertinya bakal seru sekali kisahnya.

Dan Wiro Sableng, ada di pihak mana.

Sahabat penikmat serial Wiro Sableng, kali ini mengetengahkan kisah yang beda, yang memang selalu beda dari episode ke episodenya, sebab kalau sama, pastinya akan membosankan pembaca. Dimulai dengan Djarot Pangestu yang sedang mandi di bawah pancuran. Kedua tangannya sibuk mengusap daki tebal yang menyelimuti sekujur muka dan wajahnya yang bertampang menyeramkan, oleh sebuah guratan bekas luka yang dalamn melintang, mulai dari mata kiri turun ke bawah dekat hidung sampai bibir. Seorang lelaki tua terbungkuk-bungkuk mendatangi membawa sebuah sarung lusuh. "Selamat Bagimu Djarot!" Kata orang tua itu keras-keras agar dapat meningkahi suara air pancuran yang deras.

Djarot Pangestu berpaling sedikit, lalu berkata datar: "Selamat untuk apa?"

"Bukankah siang ini Kau akan keluar dari penjara? Menjadi manusia bebas kembali?"

Djarot menyemburkan air dari mulutnya, mengusap wajahnya yang penuh brewok dan kumis liar lalu berkata: "Dua puluh tahun menjadi bangkai hidup mendekam di penjara celaka ini ketika akhirnya dibebaskan, apakah itu satu hal yang menggembirakan?"

Si orang tua bungkuk melemparkan sarung bututnya ke atas batu. Dia memandang ke arah kaki Djarot Pengestu di mana seuantai rantai besi mengikat pergelangan kaki kiri dan kanan lelaki itu satu sama lain. Dua puluh tahun menjadi budak penjara.  Dua puluh tahun pula rantai besi itu telah menggantuli sepasang kaki Djarot Pengestu.

Bagaimana kelanjutan kisahnya, download saja langsung DI SINI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar